Kutipan

Ataukah Kita Sehati?:)

Tulisan adalah teman mesra di kala duduk, di kala berdiri,  maupun berbaring.

Hanyalah intermezo singkat sebelum kuabjadkan  apa yang tengah menyelimuti penuh hangat hatiku, selaras dengan matahari yang mulai memancarkan kuningnya. Minggu, 14 Mei 2017. Pukul 07.30 wib.

Jadi, siapa yang mengikuti siapa? Ataukah kita sehati?:)

Adalah sudah menjadi jadwal dalam keseharianku; bangun di kala subuh, bersuci dan menjalankan ritual raga dan semoga juga hati—shalat Subuh—lalu menyentuh beberapa pekerjaan rumah dengan urutan senyamanku. Menyesuaikan situasi dan kondisi. Pilihan di antaranya yakni; menyapu, mencuci piring dan sefamilinya yang lain, dan atau mencuci pakaian. Kurang lebihnya seperti itu hingga selesainya yang biasanya akan bersamaan dengan pukul 08.00 wib.

Suatu ketika kutemui pagiku dalam keadaan hati yang cerah-sumringah. Tak beda dengan suasana pagi itu yang cerah masih gelap dengan langit berhiaskan penghuninya—bulan yang kala itu tengah sabit, gemintang, dan awan putih di beberapa sisi. Tentu hal tersebut menjadikan kuadrat indahnya pagiku. Memberikan semangat tersendiri dalam menemui sederet aktivitas wajib-rutin di kala awal hari.

Selang beberapa hari terlewat, kudapati sebuah hari di mana aku bangun dengan suasana hati bertolak dengan yang kutuliskan sebelumnya, sesak sejenis jengkel. Entah sebab apa atau siapa, tak terdeteksi oleh rasionalku—sempat aku merenungkan dengan pikiran apa yang menjadikanku seperti itu. Namun nihil. Berhenti pada ‘entah’.

Selepas shalat Subuh, aku mulai membersihkan ruang tamu. Berlanjut  mencuci pakaian. Kamar mandi di mana tempatku mencuci berhadapan dengan ruang kosong langsung beratapkan langit. Sayu kudapati muka langit kala itu. Gelap-redup-kuning-kelabu, menyatu. Menutupi elok penghuni kolong langit malam yang sejatinya akan berganti sinaran mentari pagi. Kaburlah sang Pagi cerah-sumringah, semakin memendungkan ‘aku’. Kesemangatan untuk menjalani serangkaian aktivitas pagiku seakan ikut terseret dalam putaran kelabu sang Pagi.

Di sela aku mencuci, aku berpikir dan bertanya pada diri, “Aku bangun dalam suntuk. Lha, kenapa pagi ini juga mendung? Kemarin aku bangun penuh sumringah, paginya juga super cerah. Ada apa ini? Aku yang ngikut kamu, apa kamu yang ngikut aku, hay Pagi?!”

Lepas berpikiran seperti itu, akupun memuji kepada Tuhan, “Ya Allah, tak semestinya aku terus-terusan murung entah sebab apa. Mungkin sesakku pagi ini sebab banyak kesalahanku yang belum kumeminta ampunan padaMu. Ampunkan aku Ya Rabb.” Sembari membilas cucian, aku pun berusaha menarik senyum pada wajahku. Mengusir cemberut yang seakan menempelinya lekat. Berangsur pula kudapati hari mulai terwarnai cerah matahari. Syukurku pula aku bisa menjemur pakaian di bawah sinarnya yang kini mulai tampak.

“Mungkin kita sehati, salam sesama hamba, hay Pagi.” :):*

TAMAT

 

Kutipan

-Buk-

Malam 17 Ramadhan kemarin,

Hampir 2×60 menit sebelumnya aku lelap dalam tidur. Lewat pukul tiga malam. Sambil mengaduk racikan kopi, aku menelusuri kembali mimpiku yang telah lewat. Sambil membatin, “Andai bisa, akan kubagi dua sisi wajahku. Separuh sumringah dan separuh murung”.

Lewat pukul sebelas malam,

Kukira satu-satunya pilihan—Restart aniway—akan mengajarkanku untuk berikhlas secara paksa, ketika PC-ku mendadak hilang arah. “Klik”. Beberapa detik kutunggu. Kembali hidup. Kuperiksa garapanku sebelumnya. “Alhamdulillah….” Syukurku, rasanya senyum yang tersimpul kala itu sampai ke hati. Garapan tugas UAS terakhirku sudah aman tersimpan. Lega.

Melemaskan jemari, kusentuh ponsel setiaku—dia cukup bersahabat selama beberapa tahun bersama. Nyaman kupakai searching tulisan juga bermaya. Meski minim aplikasi, …. Ah, sudahlah aku tak ingin membahas ini—kubuka WA dan mengetikkan pesan balasan ke salah satu kontak yang sebenarnya sudah beberapa saat kubiarkan tak terjawab. “…pegel tenan.” Niatku mengeluhkan punggungku yang terasa kaku. Namun, kekakuan hatiku yang sebenarnya tengah (dan berusaha kulenturkan) bersitegang dengan seseorang di balik kontak tersebut lebih menguasai diri. Balasanku terabaikan.

Selang beberapa waktu kembali kukirim pesan. Centang satu. Offline.

Pukul 00.26 Wib. Sudah cukup larut, selarut kantukku yang tak terabaikan. Masih bingung. Harus tersenyum atau murung. Baiklah! Sedikit merapikan bantal, lalu menarik selimut. Aku tidur.

Uncomfortable begining namun happy ending. Sudah kutemukan jalan cerita mimpiku semalam. Cuplikan akhir cerita, aku tampak begitu akur dengan seseorang yang mana dalam dunia nyata kami sering jumpa namun langka bertegur sapa. Itu dalam mimpi. Kupasang penutup cangkir, kubiarkan mengendap sembari berlalu mengambil wudlu.

 “TERuntuk kamu. Tak bermaksud membela diri. Aku mengaku salah. Hanya saja, sudah menjadi sifatku yang tak suka untuk mengemis maaf. Aku mengucap permintaan maaf, diterima atau tidak bukanlah hakku untuk memaksakan. Sebaliknya, tak juga nyaman bagiku membuat orang lain merasa bersalah padaku.  Tenanglah!:)

Dengan penuh sadar, aku lancang ingin  tahu alasanmu seperti yang kita bahas kala itu. Maaf.

Satu hal yang sebenarnya belum sempat kusampaikan, aku cukup nyaman membaca sebuah status sederhanamu. “Semut pun gadah keistimewaan.” Save as, heheL, terima kasih.

Oya, Ririn sudah pulang. Tadi menyelaku yang sebenarnya tengah menuliskan ini dengan menenteng laporan askepnya yang belum selesai.

ririn

Laporan Asuhan-Keperawatan

Ng, kukira hanya itu yang ingin kusuratkan. Maaf untuk pesanmu, aku nyaman dengan diamku. Tak ingin kembali mengulang salah dan menanggung rasa bersalah. Sungguh, tak kuat hati!! Cukup engkau tau rasa bersalahku kali ini. Sekian. Barakallah.”

Dari seduhan kopi, kita belajar menerima rasa pahit. Itulah kunci menikmati (adakalanya) pedihnya hidup. Ah, maksudku pahitnya kopi.

18 Ramadhan 1438 H, 14:15 Wib.

ANIMISME DAN DINAMISME

ANIMISME DAN DINAMISME

Disusun guna: Memenuhi tugas Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Perbandingan Agama

Pengampu: Imamul Huda, M.Pd.I

logo iain

Disusun Oleh:

  1. Roudhotul Yahrotul Ilma 111-14-358
  2. Siti Nur Jauharatul Uyuuni 111-14-362
  3. M. Faiz Fahmi Muhandis 111-14-382

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

2017

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kepercayaan dalam berpedoman menjalani hidup di dunia ini sudah bermula jauh dari hari ini. dimana, terdapat berbagai keyakinan yang telah dianut sejak  nenek moyang bangsa ini dalam sejarahnya. Salah ssatu paham atau keyakinan yang telah meluas di Indonesia adalah termasuk animisme dan dinamisme.

Dalam makalah ini, penyusun akan sedikit membahas tentang dua keyakinan yang telah dianut sebagian dari masyarakat kita.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian Animisme dan Dinamisme?
  3. Bagaimana sejarah lahirnya Animisme dan Dinamisme?
  4. Bagaimana konsep Ketuhanan dan Peribadatan dalam Animisme dan Dinamisme?
  5. Bagaimana ciri khas dari Animisme dan Dinamisme?
  6. Seperti apa contoh Animisme dan Dinamisme?

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui apa pengertian Animisme dan Dinamisme?
  3. Untuk mengetahui bagaimana sejarah lahirnya Animisme dan Dinamisme?
  4. Untuk mengetahui bagaimana konsep Ketuhanan dan Peribadatan dalam Animisme dan Dinamisme?
  5. Untuk mengetahui bagaimana ciri khas dari Animisme dan Dinamisme?
  6. Untuk mengetahui seperti apa contoh Animisme dan Dinamisme?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Animisme dan Dinamisme
  2. Pengertian Animisme

Animisme berasal dari bahasa Latin, Animisme dan bahasa Yunani, Avepos, dalam bahasa Sansekerta disebut disebut Prana, dalam bahasa Ibrani disebut Ruah yang artinya napas atau jiwa.[1]

Aminisme berasal dari kata Anima, animae, dari bahasa Latin, Animus, dan dari bahasa Yunani Avepos, dalam bahasa Sansekerta disebut Prana, dalam bahasa ibrani disebut Ruah yang artinya Napas atau jiwa. Ia adalah ajaran atau doktrin realita jiwa.[2]

  1. Pengertian Dinamisme

Dinamisme berasal dari kata yang berasal dari kata yang terdapaat dalam bahasa Yunani, yaitu Dunamos dan bahasa inggris Dynamis yang berarti kekuatan, kekuasaan, atau khasiat.[3]

Secara etimologis, perkataan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu Dunamos dan diinggriskan menjadi Dynamic yang umumnya diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan, atau khasiat dan dapat juga diterjemahkan dengan daya.[4]

Dalam ensiklopedia umum dijumpai definisi dinamisme sebagai kepercayaan keberagaman primitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu ke Indonesia (termasuk antara lain Polynesia dan Melanesia), selanjutnya dinyatakan, bahwa dasarnya adalah percaya adanya kekuatan yang maha ada yang berada dimana-mana.[5]

T.S.G Mulia menerangkan dinamisme sebagai suatu kepercayaan bahwa pada berbagai benda memiliki suatu kekuatan atau kesaktian. Misalnya api, batu,tumbuh-tumbuhan, pada beberapa hewan, dan juga manusia. kekuatan ini tidak dibayangkan sebagai suatu tokoh atau orang halus. Hal ini Hong disebut tidak berpribadi.[6]

  1. Sejarah Lahirnya Paham Animisme dan Dinamisme

Keberadaan paham atau aliran animisme dan dinamisme ini tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Hindu dan Budha telah hadir lebih awal dalam peradaban nusantara. Masyarakat kita telah mengenal kedua agama budaya daripada agama Islam. Namun, sebelumnya ada periode khusus yang berbeda dengan zaman Hindu-Budha. Masa itu adalah masa pra-sejarah. Zaman ini disebut sebagai zaman yang belum mengenal tulisan. Pada saat itu, masyarahat sekitar hanya menggunakan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi.

Di zaman itulah, masyarakat belum mengenal agama. Mereka belum mengerti tentang baik dan buruk. Mereka juga belum mengerti tentang aturan hidup karena tidak ada kitab suci atau undang-undang yang menuntun kehidupan mereka. Tidak ada yang istimewa pada zaman ini kecuali kepercayaan primitif mereka tentang aminisme dan dinamisme. Disebutkan oleh para sejarawan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan tengak benua Asia. Ada yang mengatakan bahwa mereka bersebelahan dengan masyarakat Tiongkok. Ada juga yang menyebut nenek moyang bangsa Indonesia berasal berasal dari kawasan selatan Mongol.Yang pasti, para sejarawan tersebut sepakat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari kawasan Asia.

Menurut sejarah, diceritakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia tersebut berpindah-pindah mengikuti aliran sungai India. Sampai pada abad ke-40 SM, mereka pindah dan kemudian menetap dikawasan nusantara. Mereka tersebar disepanjang kawasan pesisir pulau Sumatera dan Jawa. Ada juga yang menepati daerah pedalaman Kalimantan dan Sulawesi. Penyebaran ini tidak terjadi dengan proses yang cepat.  Pertumbuhan masyarakatnya tidak begitu pesat. Hal ini disebabkan karena sedikitnya alat transportasi untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain. Ditambah dengan tidak adanya bahasa uang disepakati antara mereka sehingga menyulitkan mereka dalam berkomunikasi dengan pihak luar.

Nenek moyang bangsa Indonesia tidak hanya membawa barang-barang kuno sebagai pembekalan hiup mereka. Disamping itu, mereka juga membawa budaya, tradisi, ataupun kepercayaan yang sebelumnya telah mereka dapati dari bangsa lain di luar musantara. Menurut sejarah, banyak terjalin interaksi diantara manusia saat itu. mereka yang telah mendiami bumi nusantara telah menjalin interaksi dengan bangsa Tiongkok, Mongol, Aria dan suku-suku di kawasan India. Dari interaksi inilah, nenek moyang Indonesia banyak mengadopsi pemikiran dan kepercayaan dari  bangsa luar, seperti Cina dan India.

Walaupun Hindu dan Budha belum menguasai bumi nusantara, banyak diantara mereka yang sudah melakukan proses ritual-ritual tertentu. Kepercayaan animisme dan dimamisne telah tumbuh dan berkembang pesat di sekitar lingkungan mereka. Dari kepercayaan inilah, mereka membangun sebuah masyarakat. Mereka mengangkat seorang kepala adat sebagai pemimpin. Baik pemimpin Kemasyarakatan ataupun pemimpin dalam proses-proses ritual.

Kepercayaan animisme dan dinamisme didapat dari pengaruh bangsa lain yang telah menjalin interaksi dengan mereka. ada yang mengatakan bahwa paham ini berasal dari ajaran Taonisme yang lahir di kawasan Tiongkok. Ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir dari ajaran bangsa Aria. Yang pasti, saat itu masyarakat awal Indonesia sudah mengenal istilah dewa, roh jahat dan roh baik, dan kesaktian atau kekuatan luar biasa.

Tidak hanya itu, masyarakat awal Indonesia juga sudah mengenal tentang bagaimana cara menghormati orang tang sudah mati. Kepercayaan bahwa manusia yang hidup masih bisa menjalin komunikasi dengan para leluhur mereka yang sudah mati. Untuk itulah,mereka melakukan ritual-ritual tertentu dalam rangka menghormati arwah para leluhur dan menjauhkan diri dari roh jahat. Setiap benda yang dianggap ajaib atau mengesankan, maka mereka akan menganggapnya sebagai benda yang memiliki kesaktian. Matahari dianggap sebagai dewa, bulan diyakini sebagai dewi,langitdianggap sebagai kerajaan, bumi dan seisinya disebutsebagai pelindung atau pengawal manusia.

Di kawasan Jazirah Arab, sebagian masyarakat msih percaya pada kekuatan sungai Nil atau kesaktian padang Sahara Fir’aun masih diyakini sebagai sosok yang masih memiliki kekuatan walaupun jasadnya telah rusak. Bahkan di Eropa, kepercayaan terhadap dewa-dewa Yunani atau roh –roh jahat seperti vampir dan zhombie, masih diyakini oleh mereka. Dan semua penelusuran ini dapat disimpulkan bahwa lahirnya kepercayaan animisme dan dinamisme di Indonesia adalah berasal dari pengaruh bangsa lain.[7]

  1. Konsep Ketuhanan dan Peribadatan

Selain adanya hall yang diyakini dan yang meyakini, salah satu syarat agama adalah adanya konsep kepercayaan atau ketuhanan yang membedakan dari yang lain. Dalam animisme dan dinamisme ada beberapa konsep antara lain:

  1. Animisme

Dalam pandanga sejarah agama, istilah roh/nyawa digunakan dan ditetapkan dalam suatu pengertian yang lebih luas untuk menunjukkan kepercayaan terhadap adanya makhluk-makhluk spiritual yang erat skali hubungannya dengan tubuh ata jasad. Makhluk spiritual ini merupakan suatu unsur yang kemudian membentuk jiwa dan kepribadian yang tidak lagi dengan suatu jasad yang membatasinya.[8]

Sedangkan pengertian roh dalam masyarakat primitif tidak sama dengan pengertian roh pada masyarakat moden. Masyarakat primitif belumisa membayangkan yang bersifat immaterial. Karenanya, roh terdiri atas materi yang sangat halus sekali. Sifat dari roh ini adalah memiliki bentuk, umur, dan mampu makan.[9] Hal ini dapt diketahui dari sesajaen yang diberikan msyarakat primitif sebagai bentuk hadiah pada roh-roh tersebut. Roh/nyawa bagi masyarakat primitif adalah kekuatan hidup, yang dapat tinggal di dalam diri manusia, di dalan binatang, di dalam tumbuh-tumbuhan dan pada umumnya didalam segala sesuatu yang ada.[10]

   Membicarakan teori Animisme tidak dapat dilepaskan dari adanya dua keyakinan kepercayan pada orang-orang primitif yaitu keyakinan kepercayaan akan adanya jiwa pada setiap makhluk yang dapat terus berada sekalipun makhluk tadi sudah meninggal, atau tubuhnya sudah hancur dan keyakinan akan adanya banyak roh yang berpangkal-pangkal dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Meskipun masih belum diakui sepenuhnya sebagai agama, menurut Tylor ada empat tahap proses yang dilalui animisme untuk bisa diakui sebagai agama primitif. Tahap pertama, masyarakat primitif menghayalkan adanya hantu jiwa (Ghost-soul) orang mati pasti mengunjungi orang hidup. Hantu jiwa inilah yang yang mengganggu orang-orang yang masih hidup. Tahap kedua, jiwa menampakkan diri. Tahap ketiga, timbulkepercayaan dalam masyarakat tersebut bahwa segala sesuatu berjiwa. Tahap keempat, dari yang berjiwa ini ada yang menonjol, seperti pohon besar atau batu aneh. Akhirnya, yang paling menonjol dari kesemuanya disembah.[11]

Dalam kepercayaan animisme, terdapat banyak ragam kepercayaan. Kepercayaan-kepercayaan tersebut dikelompokkan menjadiempat antara lain:

  1. Kepercayaan dan penyembahaan kepada alam (Naturewonship). Seperti penyembahan pada api, matahari, bintang dan lain-lain.
  2. Kepercayaan dan penyembahaan kepada benda-benda (Folishwonship). Dalam anggapan mereka siapasaja yang memakai dan menggunakan benda-benda tersebut akan terhindar dari malapetaka dan kesengsaraan hidup. Seperti kepercayaan pada batu akik, besi buat jimat, air buat obat, api untuk membakar mayat dan lain-lain.
  3. Kepercayaan dan penyembahaan kepada binatang (animalworship). Binatang-binatang ini dipuja karena dianggap memberikan keselamatan dan kemanfaatan. Seperti sapi di Bali, Lembu di Mesir, Ular di India, buaya dan lain-lain.
  4. Kepercayaan dan penyembahaan kepada roh nenek moyang (ancestorworship). Dalam kepercayaan primitif, roh orang-orang yang sudah mati masih hidup dan dpat diminta pertolongannya. maka tidak jarang lagi orang yang mengadakan peringatan bagi si mati selama tiga aatau tujuh hari, seratus hari dan seterusnya. Ditambah dengan pemberian sesajen kepada roh-roh tersebut. Bahkan roh-roh ini dapat dipanggil oleh orang-orang tertentu untukdimintai doa restu dan lain-lain.[12]
  5. Dinamisme

Sebagai kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan gaib, dalam dinamisme dilakukan klasifikasi benda-benda yang memancarkan kekuatan gaib menjadi tiga bagian antara lain:[13]

  1. Benda-benda keramat

Benda-benda keramat menurut orang primitif adalah benda yang memiliki kekuatan luar biasa dan jarang ditemukan bandingnya sehingga bagi mereka terkesan gaib. Seperti logam emas, perak, besi dan lain-lain. Dan untuk menyampaikan kekeramatannya, ada berbagai kriteria dengan masing-masing bagian mempunyaikesaktian (makna) sendiri-sendiri. Misalnya ada kebiasaan di goa untuk menimbangsepotong rantai dari emas pada setiap tahun. Kalau beratnya bertambah ada harapan baik bagi kerajaan. Sebaliknya jika berkurang maka makamenjadi malapetaka.

  1. Binatang-binatang keramat

Pada kepercayan bangsa primitif terdapat suatu anggapan terhadap beberapa jenis binatang yang keramat. Binatang-bintang ini dilarang diburu kecuali pada waktu suci. Bahkan ada binatang yang dianggap dapat menurunkan manusia. Pada umumnya binatang keramat ini sangat dihormati. selain itu, binatang ini dilarang dianiaya, diburu sewenang-wenag dan dimakan daginya dengan sembarangan. dan hanya dengan upara resmi saja diadakan penyembelihan hewan-hewan ini. seperti buaya, harimau, perkutut dan lain-lain.

  1. Orang-orang keramat

Dalam masyarakat primitif ada kepercayaan bahwa beberapa manusa ada ysng dianggapsuci,bertuah, kermat dan sebagainya. Mereka dihormati lebih dari yang lainnya, baik karena keturunannya maupun karena ilmunya. Menurut mereka, orang-orang tersebut memiliki kekuatan gaib. Misalnya dalam pewayangan, kresna dan rama dianggap penjelmaan wisnu. Sehingga mereka diyakini sakti, berhak memerintah kerajaan dan mendapat kedudukan tinggi dalam masyarakat. Selain itu, dalam zaman sekarang ada kiai dalam masyarakat pedesaan yang selalu didewakan seakan tidak pernah salah. Halini merupakan sisa-sisa dinamisme.

  1. Ciri khas dari Animisme dan Dinamisme

Ciri khas animisme adalah  menganut kepercayaan roh-roh dan daya-daya ghaib yang bersifat aktif. Prinsip roh aktif artinya animisme mengajarkan bahwa roh-roh orang yang mati tetap hidup bahkan menjadi sakti seperti dewa. Bisa berbuat aktif mencelakakan atau sebaliknya.di dunia ini juga dihuni oleh berbagai macam roh ghaib yang membantu atau mengganggu kehidupan manusia. Dengan demikian seluruh ritus atau upacara meditasi animisme adalah untuk hubungan dan mempengaruhi  roh-roh dan kekuatan-kekuatan ghaib.[14]

Sedangkan untuk penganut kepercayaan dinamisme sering meminta tolong kepada arwah-arwah nenek moyang untuk urusan mereka juga kepada arwah orang-orang besar dan yang mereka hormati. Mereka masih mempercayai benda-benda pusaka yang mempunyai kekuatan ghaib seperti keris, batu merah delima, batu hitam, dan lain-lain. Dinamisme merupakan sebuah kepercayaan yang memiliki kekuatan abstrak yang terdiam pada suatu benda maupun tempat tertentu.[15]

  1. Contoh Bentuk Animisme dan Dinamisme
  2. Contoh Animisme
  3. Nature Worship

          Pada umumnya, pemujaan pada alam atau bagian-bagian dari alam raya telah dilakukanoleh semua golongan atau bangsa yang primitif yakni mereka yang belum menerima wahyu Ilahi yang dibawa oleh rasul sepanjang zaman. Dimana faedah nmatahari, bulan, api dan sebagainyatelah mereka salah artikan. 

  1. Feiish Worship

Pemakaian benda sebab adanya kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan ghaib. Fetishme berkeyakinan bahwa dengan menggunakan benda-benda tertentu, pemakaiyya akan terhindar dari malapetaka. Umpamanya, sembuh dari penyakit, kebal atas tusukan senjata tajam, dan sebagainya.

c Animal Worship

Mungkin memuuja binatang akan terdengan ganjil adanya. Akan tetapi, pada kenyataanyya hal itu  masih banyak dilakukan umat manusia masa kini. Paling tidak mereka memuliakan bagian tubuh dari binatang tertentu. Seperti, taring babi putih, kulit dan sebagainya.

  1. Ancestor Worship.

Mumuja roh nenek moyang masih begitu sering dan maklum di beberapa daerah dimuka bumi ini termasuk Indonesia di dalamnya.[16]

       Animisme merupakan kepercayaan pertama bagi mereka, di mana mereka menafsirkan pada semua benda yang bergerak itu dianggap hidup dan memiliki kekuatan roh, baik roh jahatt maupun roh baik. Disamping itu, mereka juga menganggap bahwa di antara semua roh yang ada pasti terdapat roh yangpaling berkuasa atas manusia.

  1. Contoh Dinamisme

Beberapa upacara tradisi para penganut dinamisme jawa yang masih rutin sampai sekarang adalah laruungan, tedhak sitten, tahun baru sura, dan lain-lain. Di Keraton Yogya dan Solo misalya, masih sering diadakan upacara kirab pusaka pada setiap tahun baru Jawa yakni bulan Sura.  Sedangkan untuk upacara larungan yang paling terkenal adalh di daerah pesisir Cilacap.

       Selanjutnya sebagai peninggalan masa lalu adalah melakukan tindakan keagamaan dengan berusaha untuk menambah kekuatan batin agar dapat mempengaruhi kekuatan alam semesta. Hal ini dilaksanakan agar semua kekuatan alam yang akan mempengaruhi kehidupan diri dan keluarganya dapatdikalahkan.

Usaha ini ditempuh dengan jalan laku prihatin yakni mencegah makan dan mengurangi tidur, makan hanya makanan yang serba putih seperti air putih, nasi putih. Bisa juga dilakuakn dengan hanya makan makanan  yang serba tawar tanpa gula atau garam, dan berpuasa pada hari-hari wetonan atau hari kelahiran. Usaha yang palin berat untuk dilakukan ialah pati geni atau tidak makan, tidak minum, dan tidak melihat sinar apapun selama empat puluh malam, empat puluh hari. Usaha untuk menambah kekuatan batin itu sendiri dilakukan pula dengan cara menggunakan benda-benda bertuah atau berkekuatan ghaib yang sering disebuat dengan jima benda-benda tersebut dapat berupa keris, tombak, song-song jene, batu akik, akar bahar, dan  kuku macan.

       Pada intinya, dinamisme adalah kepercayaan kepada suatu daya kekuatan atau kekuasaan yang keramat dan tidak berpribadi yang mana dianggap halus atau berasad yaitu sejenis fluidum yang tidak dimiliki oleh benda, binatang, atau manusia.[17]

Pada dasarnya, kedua-duanya berkenaan dengan cara tanggapan manusia terhadap kekuatan. Akan tetapi, dalam animisme, kekuatan tersebut dianggap sebagai kekuasaan yang mempribadi. Dan, sementara untuk dinamisme, berpangkal pada tanggapan terhadap kekuatan yang tidak berpribadi.[18]

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Aminisme berasal dari kata Anima, animae, dari bahasa Latin, Animus, dan dari bahasa Yunani Avepos, dalam bahasa Sansekerta disebut Prana, dalam bahasa ibrani disebut Ruah yang artinya Napas atau jiwa. Ia adalah ajaran atau doktrin realita jiwa.

Dalam ensiklopedia umum dijumpai definisi dinamisme sebagai kepercayaan keberagaman primitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu ke Indonesia (termasuk antara lain Polynesia dan Melanesia), selanjutnya dinyatakan, bahwa dasarnya adalah percaya adanya kekuatan yang maha ada yang berada dimana-mana.

Kepercayaan animisme dan dinamisme didapat dari pengaruh bangsa lain yang telah menjalin interaksi dengan mereka. ada yang mengatakan bahwa paham ini berasal dari ajaran Taonisme yang lahir di kawasan Tiongkok. Ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir dari ajaran bangsa Aria. Yang pasti, saat itu masyarakat awal Indonesia sudah mengenal istilah dewa, roh jahat dan roh baik, dan kesaktian atau kekuatan luar biasa.

Ciri khas animisme adalah  menganut kepercayaan roh-roh dan daya-daya ghaib yang bersifat aktif. Prinsip roh aktif artinya animisme mengajarkan bahwa roh-roh orang yang mati tetap hidup bahkan menjadi sakti seperti dewa. Bisa berbuat aktif mencelakakan atau sebaliknya.di dunia ini juga dihuni oleh berbagai macam roh ghaib yang membantu atau mengganggu kehidupan manusia. Dengan demikian seluruh ritus atau upacara meditasi animisme adalah untuk hubungan dan mempengaruhi  roh-roh dan kekuatan-kekuatan ghaib.

Sedangkan untuk penganut kepercayaan dinamisme sering meminta tolong kepada arwah-arwah nenek moyang untuk urusan mereka juga kepada arwah orang-orang besar dan yang mereka hormati. Mereka masih mempercayai benda-benda pusaka yang mempunyai kekuatan ghaib seperti keris, batu merah delima, batu hitam, dan lain-lain. Dinamisme merupakan sebuah kepercayaan yang memiliki kekuatan abstrak yang terdiam pada suatu benda maupun tempat tertentu.

Contoh Animisme

  1. Nature Worship
  2. Feitish Worship
  3. Animal Worship
  4. Ancestor Worship.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu. 1991. Perbandingan Agama. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Ali, Mukti. 1988. Agama-agama di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.

Bakhtiar, Amsal. 2009. Filafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Daradjat, Zakiah. 1996.  Perbandingan Agama. Jakarta: Bumi Aksara.

Direktorat Pembinaan Pergurun Tinggi Agama Islam. 1981. Perbandingan Agama. IAIN Jakarta.

Ensiklopedia Umum. 1973. Yogyakarta:  Kanisius.

Fitria, Putri. 2014. Kamus Sejarah dan Budaya Indonesia. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia.

Honing, A.G. 1993. Ilmu Agama. Jakarta: Gunung Mulia.

Jamil, Abdul, dkk. 2000. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Mulia, T.S.G. Ensiklopedi Indonesia I. Bandung: N. V. Van Houwe.

Nasution, Harun. 1973. Falsafah Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Roham, Abujamin. 1992.  Agama Whyu dan Kepercayaan Budha. Jakarta: Media Da’wah.

Sofwan, Ridin, dkk. 2004. Merumuskan Kembali Interelasi Islam Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Warsito, Loekisno Choiril. 2003. Paham Ketuhanan Modern Sejarah dan Pokok-pokok Ajarannya. Surabaya: Elkaf.

 

 

 

[1]Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 24.

[2]Direktorat Pembinaan Pergurun Tinggi Agama Islam, Perbandingan Agama,  (IAIN Jakarta, 1981), hlm. 25.

[3]Harun Nasution, Falsafah Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 23.

[4]Zakiah Daradjat, Op.Cit.,  hlm. 98.

[5]Ensiklopedia Umum, (Yogyakarta:  Kanisius, 1973), hlm. 318.

[6]T.S.G. Mulia, Ensiklopedi Indonesia I, (Bandung: N. V. Van Houwe), hlm. 446.

[7]Putri Fitria, Kamus Sejarah dan Budaya Indonesia, (Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, 2014), hlm. 15.

[8]Zakiah Daradjat, Op. Cit., hlm. 24

[9]Loekisno Choiril Warsito, Paham Ketuhanan Modern Sejarah dan Pokok-pokok Ajarannya, (Surabaya: Elkaf, 2003), hlm. 62.

[10]A.G.Honing, Ilmu Agama, (Jakarta: Gunung Mulia, 1993), hlm. 59.

[11]Amsal Bakhtiar, Filafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 63.

[12]Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, (Jakarta:PT. Rineka Cipta, 1991), hlm. 42-46.

[13] Ibid., hlm. 35-39.

[14] Ridin Sofwan, dkk., Merumuskan Kembali Interelasi Islam Jawa, (Yogyakarta: Gama Media), hlm. 20

[15] Abdul Jamil, dkk., Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 5-9.

[16] Abujamin Roham, Agama Whyu dan Kepercayaan Budha, (Jakarta: Media Da’wah), hlm. 58-59

[17] Abdul Jamil, dkk., Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 9-10.

[18] Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), hlm. 43.

Jum’at, 07042017; 08.11 WIB~

Satukemubadziranakanmenelurkan kemubadziran lainnya. Satu kebohonganpula akan menelurkan kebohohan lainnya. Maka, sesungguhnyakahati-hatian yang sejatiadalahtatkaladalamkelapangan.

Takkan seorang itu sampai pada teledor–dalam kesempitan– kecuali ia teguh dalam mengemban kehati-hatian ketika lapang. Seringkali dalam kesempitan seorang itu merasa benar-benar terhimpit. Sampai pada ketika diberikan sebuah racun di hadapannya terlihat umpama madu yang mana menggiurkan untuk ia minum saat dahaga. Namun atas pertolongan Tuhan, hanya dengan pertolongan Tuhanlah seorang itu mampu terhindar dari godaan untuk menjamah racun tersebut sebab kesempitan yang menundukkannya dan menjadikannya ia kehilangan sadar.

Untuk itu, sudah sepatutnyalah kita melanggengkan untuk mengingatNya, memohon perlindungan dariNya dalam lapang maupun sempit. Sebab, memanglah kita adalah kita. Namun, Allahlah pemilik kita yang hakiki.

“Ya Allah, perlihatkanlah kebaikan sebagai kebaikan bagi kami. Dan rizkikanlah kepada kami untuk mengikutinya. Pula, perlihatkanlah kebatilan sebagai kebatilan. Dan, rizkikanlah pada kami untuk menjauhinya. Amin.”
Jum’at, 07042017; 08.11 WIB~

Sebatas Mimpi

 

Semalam,

Kau hadir

Masih lengkap dengan segla rahasiaanmu

Sesosok kamu yang tersembunyi dalam akun facebook-mu

Entah akun yang mana kamu bersembunyi padanya,

Semalam,

Kau hadir dengannya

Dengan sebuah pesan dalam inbox

Menegurku

Hanya menegur singkat

Tak begitu jelas aku

Yang kupaham,

“Jangan suka maen keluar (jauh) sendiri

Kamu cewek

Gak baik pergi sendirian –tanpa mahrom.”

Seperti itu,

Maaf kupanjangkan

Atas dasar 'sepahamku'

Terima kasih masih mau menegurku

Meski, hanya lewat ‘Sebatas Mimpi’ ❤

--Dua puluh lima Juli dua ribu enam belas. Pukul 17.15.

 

Sampingan

Tercekat

“Ah, kamu, Il!” Batinku menyalahkan apa yang barusan kuutarakan pada teman sebelah kiriku pada saat jam madrasah. Selang beberapa saat sebelumnya ustadzku bertutur, “Adzillah, maknanya adalah perempuan yang suka mencacati orang lain”, dalam penjelasan beliau tentang pelajaran yang sedang disampaikan yang mana membuatku harus berat menelah ludah.


Inilah yang kuutarakan pada teman sebelahku, Ummu, “Kalo hafalan aja nyontek, gimana besok pas nyariin nafkah buat keluarga?” Ucapku yang merasa sewot dengan kelakuan salah seorang teman putra dalam madrasah kami. Beberapa kali kami dapati ia mencontek saat hafalan di kelas. Benar saja kami tahu -kebiasaannya- itu, sebab saat madrasah jarak kami -putri- dengan anak putra begitu dekat. Hanya beberapa ukuran lengan. Kami yang setiap madrasah berlangsung duduk di belakang anak putra dapat dengan mudahnya berinteraksi  semisal ngobrol, tanya apa gitu -meski jarang, kecuali penting-, apalagi hanya untuk sekedar melihat bagaimana tingkah mereka saat madrasah di kelas.

Hm,  aku merasa bersalah -membatin- yang pada akhirnya kusampaikan pada temanku tadi. Benar adanya apa yang dilakukan teman-putraku tersebut adalah keliru. Tapi dengan tidak sadar sebenarnya aku telah menyalahkan orang lain namun lupa menyadarkan diri sendiri.

Hla wong sebenernya tadi itu pas aku hafalan juga hampir nyontek. Tapi nggak jadi sebab aku nggak jelas lihat lafalnya. Dan, pada akhirnya aku memilih untuk mandeg di hafalan yang aku mentok merekamnya dalam memori otakku yang lemot ini. Aku berdiri. Sebagai hukuman karena nggak hafal -yang seharusnya sampai rampung target.

Dan, akhirnya, “Alfatihah,” ucap ustadzku beberapa saat kemudian sebagai tanda beliau mengahiri tarikan setoran hafalan malam itu. Aku duduk kembali.


>Perilaku itu bisa dibaca, dipelajari, dan diambil hikmahnya sebagai bahan perbaikan di masa mendatang. Seperti yang kulakukan pada salah seorang teman-putraku (yang tak mau dan memang nggak manfaat jika kusebut namanya). Aku sedikit membaca tingkahnya. Tentu dari yang kupersaksikan. Seperti saat madrasah berlangsung kala itu. Saat dimana ada kesempatan untuk berinteraksi.

Dan, dari beberapa kali aku membiasakan hal tersebut, salah satunya terhadap temanku seperti cerita yang kusampaikan di atas, aku menyimpulkan bahwa sikap itu bisa dibaca, yang mana merujuk pada sebuah simpulan sikap yang menjadi kebiasaan seseorang. Jika dalam hal sepele -entah apapun alasannya- kita curang, maka tak menutup kemungkinan dalam hal besar pun kita akan berlaku curang pula. Sebab, jika sudah terbiasa dari hal-hal yang kecil, hal yang besar pun takkan begitu terasa besarnya. Mungkin jika bisa didengar, setting-an otak kita akan berkata, “Ah, gampang!”

Hm, inilah sedikit pemikiranku yang pengennya selalu dan selalu aku berusaha memperbaiki diri. Belajar dari orang lain. Menyaring yang buruk, dan membiaskan pada diri apa-apa yang baik. Meski tertatih, tertampar, dan ter-ter yang lain yang mana aku sering salah dan kembali salah. Tapi satu hal, aku yakin bahwa Allah akan membersamai hamba-Nya (menuntun) setiap insan yang memiliki niat baik. Yakni perbaikan diri demi ampunan dan ridha-Nya. ❤